Jun
19
2008
Menyambung tulisan yang telah lalu (maaf buat yang sudah nunggu), yaitu bagaimana membuat suatu komunikasi yang menyenangkan berdasarkan empat tipe kepribadian yang sering digunakan. Oke, sudah tahu tipe kepribadian anda? Jika sudah, akan saya paparkan satu persatu.
Jika anda seorang Koleris berhadapan dengan seseorang yang:
a. Juga bersifat koleris. Karena anda memiliki kebutuhan emosional dan sifat dasar yang sama, maka hal ini akan menjadi sedikit ‘tidak menyenangkan’. Karena anda dan lawan bicara anda memiliki kebutuhan yang sama-sama harus terpenuhi. Supaya komunikasi anda berjalan menyenangkan, anda perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1.Bersikaplah rileks dan jangan terlalu agresif. Seperti yang telah diketahui, orang koleris bersifat agresif dan mudah menyerang terhadap orang lain (lawan bicara). Karena jika anda bersikap seperti itu, maka lawan bicara akan merasa bahwa anda adalah saingannya.
2.Percaya dirilah. Orang koleris memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi, dan akan merasa superior jika berhadapan dengan orang yang rasa percaya dirinya rendah. Oleh karena itu, percaya dirilah jika menghadapi orang yang bertipe koleris supaya anda tidak merasa terintimidasi atau terlalu diatur. Namun perlu diingat, kepercayaan diri yang berlebihan juga akan menjadi masalah jika anda bertemu dengan orang yang memiliki kepribadian ini. Karena lawan bicara anda akan merasa bahwa superioritasnya tersaingi.
3.Biarkan lawan bicara anda merasa dominan. Yaitu dengan membiarkannya banyak berbicara. Walaupun itu terasa ‘menyakitkan’ untuk anda, tapi untuk lawan bicara anda akan merasa senang karena kebutuhan dasarnya (ingin menjadi dominan) terpuaskan. Hal ini penting diperhatikan jika anda berhadapan dengan klien atau calon pembeli.
4.Biarkan lawan bicara ‘mengendalikan’ anda. Maksudnya, buatlah lawan bicara anda merasa bahwa dia-lah focus of interest dalam pembicaraan.
5.Jangan menyela pembicaraan lawan bicara anda.
6.Pujilah lawan bicara anda. Seorang koleris selalu ingin diaggap ‘pintar’ oleh orang lain, oleh karena itu pujilah lawan bicara anda sesekali. Continue Reading »
Jun
05
2008
Komunikasi merupakan peran vital dalam kehidupan kita. Baik itu komunikasi dengan pimpinan, bawahan, pelanggan bahkan sampai dengan keluarga. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh komunikasi. Kesuksesan dan kegagalan pun sering ditentukan oleh faktor ini. Tentu masih segar dan sampai saat ini masih sering diberitakan media, kemenangan sementara (dan bisa seterusnya) Obama dalam pemilihan calon Presiden Amerika Serikat merupakan buah komunikasi yang efektif dari para juru kampanye yang dibentuk Obama. Surplus dana dan banyaknya dukungan yang mengalir untuk calon Presiden Kulit Hitam pertama ini mengalir deras, jauh meninggalkan saingannya Hillary Clinton yang kabarnya masih berhutang jutaan dollar untuk kampanyenya.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita menginginkan memiliki suatu cara komunikasi yang baik sehingga mampu membuat orang lain merasa nyaman dan menyenangkan jika berbicara dengan kita? Jelas, semua orang menginginkannya. Keberhasilan meyakinkan klien, menjadi anak emas perusahaan sampai dengan melanggengkan hubungan perkawinan bisa didapatkan dengan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Continue Reading »
Mei
20
2008
Minggu ini baru saja saya menghabiskan dua judul buku best seller yang sangat inspiratif, menarik, lugas dan menggugah emosi. Kedua buku tersebut adalah “Laskar Pelangi” dari Andrea Hirata dan “Dunia Tanpa Sekolah” karangan Izza. Kedua buku tersebut walaupun berbeda (novel dan bukan novel), tetapi kedua buku tersebut diilhami atau bahkan murni kisah nyata dan petualangan mereka. Dan kedua buku tersebut memiliki tema yang sama: PENDIDIKAN!!
Seperti yang telah diketahui bersama, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata merupakan novel inspiratif yang menceritakan sepuluh (yang kemudian menjadi sebelas) orang yang dinamai oleh gurunya sebagai Laskar Pelangi. Perjuangan tokoh-tokoh Laskar Pelangi yang berjuang dan memiliki semangat tinggi untuk bersekolah walaupun dari mereka tidak ada yang memiliki latar belakang keluarga mampu. Semangat tinggi (yang terutama diperlihatkan oleh Lintang, yang rela bersepeda 80 kilometer pulang pergi dan beberapa kali terjegat buaya) yang ditunjukkan oleh mereka dalam menempuh pendidikan formal di SD Muhammadiyah (SD kampung yang minim fasilitas) di kampungnya membuktikan bagaimana mereka sangat semangat dalam menuntut ilmu.
Berbeda dengan Laskar Pelang, Dunia Tanpa Sekolah yang ditulis oleh Izza, seorang remaja SLTP di Jawa Tengah yang ‘enggan’ menempuh pendidikan formal dengan alasan bahwa sistem pendidikan yang di dapatnya hanya dirasa membelenggu kreatifitas. Berbeda denga anak-anak Laskar pelangi, Izza justru merasa malas berada di sekolah, bahkan kadang-kadang dia membolos.
Laskar Pelangi yang begitu bersemangat untuk berangkat sekolah berbeda 180 derajat dengan Izza yang enggan untuk pergi sekolah. Mengapa itu semua bisa terjadi? Saya akan mencoba melihatnya dari sudut pandang berbeda (baca: sudut pandang saya).
Pertama, keterbatasan merupakan bahan bakar semangat untuk bersekolah. Andrea Hirata bersama Laskar Pelangi memiliki keterbatasan guna memperoleh pendidikan formal. Dan ketika mereka memperoleh hal tersebut, maka semaksimal mungkin mereka mempertahankannya. Berbeda dengan Izza yang berasal dari keluarga berada. Kemudahan dalam mengakses pendidikan sekolah menjadikannya tidak memiliki ‘gairah’ untuk mempertahankan apa yang telah diperolehnya. Seperti pepatah Jawa “easy come easy go”. Continue Reading »
Mei
12
2008
Berkaca dari beberapa pengalaman-pengalaman yang telah lalu, entah itu sewaktu mengikuti acara-acara resmi atau tidak resmi, tergeraklah saya untuk menulis postingan ini. Postingan ini tak lebih dari sarana kontrol untuk saya pribadi, supaya tidak diberi label ‘om-om doang’ (omong-omong doang)
untuk lebih disiplin dalam segala hal. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa menjadi refleksi anda yang membaca tulisan ini.
Sepanjang hidup ini, pastilah kita pernah mendatangi suatu kegiatan atau acara-acara bersama kelompok, baik kelompok sosial, kerja atau yang lain. Dan bisakah kita hitung, jumlah acara atau kegiatan yang tepat waktu alias ‘on-time’. Kalau anda bisa menghitung acara yang tidak tepat waktu, berarti anda berada di lingkungan yang disiplin. Tetapi kalau yang bisa anda hitung adalah jumlah acara yang ‘on-time’ berarti anda sama seperti saya. Berada dalam lingkungan tidak disiplin.
Hal yang terlihat lumrah di mata kebanyakan orang ini bisa sangat berbahaya jika sudah mengakar dan mendarah daging dalam tubuh kita. Bahkan suatu saat datang seorang Profesor DNA yang meneliti jenis DNA orang Indonesia dan menemukan ada suatu tipe baru, tipe indisiplinier, wah!
Tapi untung saja sifat disiplin atau tidak disiplin bukan masalah genetika atau keturunan, itu hanya masalah kebiasaan. Dan kebiasaan itu bisa dirubah, walaupun tidak semudah membalik telapak tangan. Continue Reading »
Mei
10
2008
Judul posting di atas terlihat tampak provokatif sekali. Dan mungkin menimbulkan banyak pertanyaan buat anda. Tenang, posting kali ini hanya berisi ‘pelajaran’ yang saya dapat setelah membaca buku Laskar Pelangi dan diperkuat dengan beberapa kejadian yang saya alami.
Anda pasti sudah pernah membaca atau paling tidak, pernah mendengar Laskar Pelangi, novel yang luar biasa bagus dan fenomenal karya Andrea Hirata itu telah banyak menginspirasi banyak orang, termasuk saya. Novel yang mengisahkan perjalanan ‘kesuksesan’ Andrea Hirata yang berawal dari SD sampai pada pencapaian cita-citanya. Dalam novel tersebut banyak dikisahkan orang-orang pintar yang tidak sukses. Contoh yang paling mencolok adalah: Lintang. Tokoh super jenius yang akhirnya terhempas dari dunia pendidikan dikarenakan nasibnya sebagai anak laki-laki pertama yang harus menanggung hidup keluarganya setelah meninggalnya sang ayah.
Setiap orang pasti mempunyai kesimpulan yang berbeda setelah membaca novel tersebut. Begitu juga saya, dan dari buku itulah salah satu inspirasi saya dalam menulis judul posting di atas. Saya berkesimpulan bahwa, “jangan jadi pintar kalau ingin sukses’. Kok bisa seperti itu? Yang pertama, di dunia ini ‘pintar’ itu relatif, bukan sebuah harga mati. Sebagai contoh ketika anda membaca sebuah lowongan di media yang membutuhkan posisi sebagai sekertaris, apa yang anda pikirkan? Apakah anda berfikiran bahwa yang dibutuhkan pasti orang ‘pintar’ yang menarik, komunikatif dan ekstrover? Belum tentu. Bagaimana jika perusahaan hanya membutuhkan sekertaris yang hanya ‘pintar’ untuk mengarsipkan dokumen dan mencatat. Tidak perlu komunikatif karena tidak dibutuhkan untuk berbicara dengan klien atau memimpin rapat. Jadi orang ‘pintar’ menurut anda dan perusahaan tadi berbeda.
Yang kedua, usaha lebih keras dan memiliki impian yang tinggi lebih penting daripada hanya ‘pintar’ saja. Orang yang hanya memiliki kepintaran saja tapi tidak berani bermimpi dan memiliki usaha maksimal untuk mencapainya adalah suatu hal yang sulit untuk mencapai kesuksesan. Berbeda dengan orang yang hanya ’sedikit’ pintar tapi berani bermimpi dan memiliki usaha mencapai mimpi itu lebih besar dari orang lain, maka hal tersebut lebih bisa menjadi faktor penentu kesuksesan. Sepert yang dicontohkan oleh Andrea Hirata dalam mencapai mimpi-mimpinya. Continue Reading »