Ijazah: Antara Penting dan Tidak

Sore ini, bermula dari iseng membalas tweet dari teman saya @_uje Mahasiswa teladan yang sedang galau berat karena dipaksa harus segara lulus oleh orang tuanya, dan disusul oleh samberan tweet dari teman-teman yang lain, maka iseng-iseng saya menulis artikel ini, itung-itung sebagai tulisan perdana setelah lama tak bersua dengan blog ini.

Ijazah memang suatu benda yang aneh, unik dan keramat, dan harus membayar mahal untuk mendapatkannya. Waktu, tenaga, uang hingga kejujuran. Padahal itu hanya selembar kertas, yang menandakan adanya keterangan lulus dari sebuah lembaga pendidikan.

Banyak orang menganggap ijazah itu penting, namun tidak sedikit yang meremehkannya. “Buat apa sih ijazah, toh banyak orang yang sukses tanpa ijazah”, mungkin semacam itulah omongan orang-orang yang meremehkan keberadaan ijazah.

Tak bisa disalahkan memang, Bob Sadino, Steve Jobs, Bill Gates dan Mark Zuckerberg adalah segelintir orang yang bisa merasakan kesuksesan tanpa embel-embel ijazah. Bahkan nama-nama tersebut sering dijadikan pembenaran mahasiswa-mahasiswa abadi yang sangat mencintai kampusnya. Yang saking cintanya mereka ga mau berpisah dan meninggalkan kampus. Ya itu tadi, mahasiswa abadi :D

Kadang memang sulit jika diminta menjawab ‘Penting atau Tidak’ sebuah ijazah itu, karena fungsi ijazah tidak lagi hanya sebagai syarat mencari kerja, namun sebagai tanda bakti terhadap orang tua (ini yang saya alami) atau bisa juga sebagai sarana mencari jodoh (nah!!).

Mungkin urusan ijazah ini lebih rumit daripada pertanyaan siapa yang lebih dahulu lahir antara ayam dan telur. Namun bagi saya, ketika ada orang yang dengan arogan mengatakan “Bill Gates aja ga lulus bisa sukses!” maka saya dengan enteng akan menjawab “tapi kamu bukan Bill Gates”.

Bagaimana Menjalin Komunikasi yang menyenangkan (2)?

Menyambung tulisan yang telah lalu (maaf buat yang sudah nunggu), yaitu bagaimana membuat suatu komunikasi yang menyenangkan berdasarkan empat tipe kepribadian yang sering digunakan. Oke, sudah tahu tipe kepribadian anda? Jika sudah, akan saya paparkan satu persatu.

Jika anda seorang Koleris berhadapan dengan seseorang yang:
a. Juga bersifat koleris. Karena anda memiliki kebutuhan emosional dan sifat dasar yang sama, maka hal ini akan menjadi sedikit ‘tidak menyenangkan’. Karena anda dan lawan bicara anda memiliki kebutuhan yang sama-sama harus terpenuhi. Supaya komunikasi anda berjalan menyenangkan, anda perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1.Bersikaplah rileks dan jangan terlalu agresif. Seperti yang telah diketahui, orang koleris bersifat agresif dan mudah menyerang terhadap orang lain (lawan bicara). Karena jika anda bersikap seperti itu, maka lawan bicara akan merasa bahwa anda adalah saingannya.
2.Percaya dirilah. Orang koleris memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi, dan akan merasa superior jika berhadapan dengan orang yang rasa percaya dirinya rendah. Oleh karena itu, percaya dirilah jika menghadapi orang yang bertipe koleris supaya anda tidak merasa terintimidasi atau terlalu diatur. Namun perlu diingat, kepercayaan diri yang berlebihan juga akan menjadi masalah jika anda bertemu dengan orang yang memiliki kepribadian ini. Karena lawan bicara anda akan merasa bahwa superioritasnya tersaingi.
3.Biarkan lawan bicara anda merasa dominan. Yaitu dengan membiarkannya banyak berbicara. Walaupun itu terasa ‘menyakitkan’ untuk anda, tapi untuk lawan bicara anda akan merasa senang karena kebutuhan dasarnya (ingin menjadi dominan) terpuaskan. Hal ini penting diperhatikan jika anda berhadapan dengan klien atau calon pembeli.
4.Biarkan lawan bicara ‘mengendalikan’ anda. Maksudnya, buatlah lawan bicara anda merasa bahwa dia-lah focus of interest dalam pembicaraan.
5.Jangan menyela pembicaraan lawan bicara anda.
6.Pujilah lawan bicara anda. Seorang koleris selalu ingin diaggap ‘pintar’ oleh orang lain, oleh karena itu pujilah lawan bicara anda sesekali. Continue reading →

Bagaimana Menjalin Komunikasi yang Menyenangkan? (1)

Komunikasi merupakan peran vital dalam kehidupan kita. Baik itu komunikasi dengan pimpinan, bawahan, pelanggan bahkan sampai dengan keluarga. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh komunikasi. Kesuksesan dan kegagalan pun sering ditentukan oleh faktor ini. Tentu masih segar dan sampai saat ini masih sering diberitakan media, kemenangan sementara (dan bisa seterusnya) Obama dalam pemilihan calon Presiden Amerika Serikat merupakan buah komunikasi yang efektif dari para juru kampanye yang dibentuk Obama. Surplus dana dan banyaknya dukungan yang mengalir untuk calon Presiden Kulit Hitam pertama ini mengalir deras, jauh meninggalkan saingannya Hillary Clinton yang kabarnya masih berhutang jutaan dollar untuk kampanyenya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita menginginkan memiliki suatu cara komunikasi yang baik sehingga mampu membuat orang lain merasa nyaman dan menyenangkan jika berbicara dengan kita? Jelas, semua orang menginginkannya. Keberhasilan meyakinkan klien, menjadi anak emas perusahaan sampai dengan melanggengkan hubungan perkawinan bisa didapatkan dengan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Continue reading →

Pelajaran Moral dari Dunia Tanpa Sekolah dan Laskar Pelangi

Minggu ini baru saja saya menghabiskan dua judul buku best seller yang sangat inspiratif, menarik, lugas dan menggugah emosi. Kedua buku tersebut adalah “Laskar Pelangi” dari Andrea Hirata dan “Dunia Tanpa Sekolah” karangan Izza. Kedua buku tersebut walaupun berbeda (novel dan bukan novel), tetapi kedua buku tersebut diilhami atau bahkan murni kisah nyata dan petualangan mereka. Dan kedua buku tersebut memiliki tema yang sama: PENDIDIKAN!!

Seperti yang telah diketahui bersama, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata merupakan novel inspiratif yang menceritakan sepuluh (yang kemudian menjadi sebelas) orang yang dinamai oleh gurunya sebagai Laskar Pelangi. Perjuangan tokoh-tokoh Laskar Pelangi yang berjuang dan memiliki semangat tinggi untuk bersekolah walaupun dari mereka tidak ada yang memiliki latar belakang keluarga mampu. Semangat tinggi (yang terutama diperlihatkan oleh Lintang, yang rela bersepeda 80 kilometer pulang pergi dan beberapa kali terjegat buaya) yang ditunjukkan oleh mereka dalam menempuh pendidikan formal di SD Muhammadiyah (SD kampung yang minim fasilitas) di kampungnya membuktikan bagaimana mereka sangat semangat dalam menuntut ilmu.

Berbeda dengan Laskar Pelang, Dunia Tanpa Sekolah yang ditulis oleh Izza, seorang remaja SLTP di Jawa Tengah yang ‘enggan’ menempuh pendidikan formal dengan alasan bahwa sistem pendidikan yang di dapatnya hanya dirasa membelenggu kreatifitas. Berbeda denga anak-anak Laskar pelangi, Izza justru merasa malas berada di sekolah, bahkan kadang-kadang dia membolos.

Laskar Pelangi yang begitu bersemangat untuk berangkat sekolah berbeda 180 derajat dengan Izza yang enggan untuk pergi sekolah. Mengapa itu semua bisa terjadi? Saya akan mencoba melihatnya dari sudut pandang berbeda (baca: sudut pandang saya).

Pertama, keterbatasan merupakan bahan bakar semangat untuk bersekolah. Andrea Hirata bersama Laskar Pelangi memiliki keterbatasan guna memperoleh pendidikan formal. Dan ketika mereka memperoleh hal tersebut, maka semaksimal mungkin mereka mempertahankannya. Berbeda dengan Izza yang berasal dari keluarga berada. Kemudahan dalam mengakses pendidikan sekolah menjadikannya tidak memiliki ‘gairah’ untuk mempertahankan apa yang telah diperolehnya. Seperti pepatah Jawa “easy come easy go”. Continue reading →

Disiplin : Mudah Diucapkan. Susah Dilakukan

Berkaca dari beberapa pengalaman-pengalaman yang telah lalu, entah itu sewaktu mengikuti acara-acara resmi atau tidak resmi, tergeraklah saya untuk menulis postingan ini. Postingan ini tak lebih dari sarana kontrol untuk saya pribadi, supaya tidak diberi label ‘om-om doang’ (omong-omong doang) :) untuk lebih disiplin dalam segala hal. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa menjadi refleksi anda yang membaca tulisan ini.

Sepanjang hidup ini, pastilah kita pernah mendatangi suatu kegiatan atau acara-acara bersama kelompok, baik kelompok sosial, kerja atau yang lain. Dan bisakah kita hitung, jumlah acara atau kegiatan yang tepat waktu alias ‘on-time’. Kalau anda bisa menghitung acara yang tidak tepat waktu, berarti anda berada di lingkungan yang disiplin. Tetapi kalau yang bisa anda hitung adalah jumlah acara yang ‘on-time’ berarti anda sama seperti saya. Berada dalam lingkungan tidak disiplin.

Hal yang terlihat lumrah di mata kebanyakan orang ini bisa sangat berbahaya jika sudah mengakar dan mendarah daging dalam tubuh kita. Bahkan suatu saat datang seorang Profesor DNA yang meneliti jenis DNA orang Indonesia dan menemukan ada suatu tipe baru, tipe indisiplinier, wah! :)

Tapi untung saja sifat disiplin atau tidak disiplin bukan masalah genetika atau keturunan, itu hanya masalah kebiasaan. Dan kebiasaan itu bisa dirubah, walaupun tidak semudah membalik telapak tangan. Continue reading →