Mei 12 2008

Disiplin : Mudah Diucapkan. Susah Dilakukan

Published by afit at 3:21 pm under development and tagged:

Berkaca dari beberapa pengalaman-pengalaman yang telah lalu, entah itu sewaktu mengikuti acara-acara resmi atau tidak resmi, tergeraklah saya untuk menulis postingan ini. Postingan ini tak lebih dari sarana kontrol untuk saya pribadi, supaya tidak diberi label ‘om-om doang’ (omong-omong doang) :) untuk lebih disiplin dalam segala hal. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa menjadi refleksi anda yang membaca tulisan ini.

Sepanjang hidup ini, pastilah kita pernah mendatangi suatu kegiatan atau acara-acara bersama kelompok, baik kelompok sosial, kerja atau yang lain. Dan bisakah kita hitung, jumlah acara atau kegiatan yang tepat waktu alias ‘on-time’. Kalau anda bisa menghitung acara yang tidak tepat waktu, berarti anda berada di lingkungan yang disiplin. Tetapi kalau yang bisa anda hitung adalah jumlah acara yang ‘on-time’ berarti anda sama seperti saya. Berada dalam lingkungan tidak disiplin.

Hal yang terlihat lumrah di mata kebanyakan orang ini bisa sangat berbahaya jika sudah mengakar dan mendarah daging dalam tubuh kita. Bahkan suatu saat datang seorang Profesor DNA yang meneliti jenis DNA orang Indonesia dan menemukan ada suatu tipe baru, tipe indisiplinier, wah! :)

Tapi untung saja sifat disiplin atau tidak disiplin bukan masalah genetika atau keturunan, itu hanya masalah kebiasaan. Dan kebiasaan itu bisa dirubah, walaupun tidak semudah membalik telapak tangan.

Ada beberapa hal menarik yang saya temui mengenai masalah disiplin waktu. Jenis acara atau kegiatan ternyata memiliki pengaruh terhadap disiplin. Sebagai contoh, si A datang tepat waktu ketika diundang untuk menghadiri acara pertemuan bulanan perusahaan, namun si A ternyata ‘ngaret’ ketika diundang untuk menghadiri pertemuan bulanan RT. Padahal statusnya sama-sama rapat bulanan. Mengapa bisa begitu? menurut saya hal itu disebabkan karena sifat dari acara tersebut. Si A menganggap bahwa rapat perusahaan sangat penting dan bisa menentukan masa depannya di perusahaan, sebaliknya si A merasa bahwa rapat RT tidak begitu penting, toh asal dia datang saja sudah cukup untuk merepresentasikan kepeduliannya pada lingkungan RT.

Hal menarik lainnya, disipilin teryata dipengaruhi dengan adanya ‘persetujuan’ dari orang-orang disekitarnya. Contohnya jika si A datang terlambat di acara rapat perusahaan, rekan-rekan kerjanya ‘tidak setuju’ dengan keterlambatannya, dan menganggapnya sebagai ‘tukang telat’, tapi ketika si A terlambat menghadiri rapat RT, sedikit atau bahkan tidak ada tetangga-tetangganya yang mengatakan bahwa dia terlambat. Seperti metode reward dan punishment, seseorang yang mendapat reward akan selalu mengulangi ‘prestasinya’ dan yang mendapat punishment akan menghentikannya. Dalam hal ini, si A akan mendapat punishment ketika dia datang terlambat dalam acara rapat perusahaan, minimal dia akan dicemooh oleh rekan-rekan kerjanya. Hal itu dianggap punishment oleh si A, dan dia tidak akan megulanginya lagi. Namun si A tidak mendapatkan punishment ketika datang terlambat di rapat RT, malahan si A seolah mendapatkan ‘reward’ dari tetangga-tetangganya.

Ini bukan temuan ilmiah, dan hanya terjadi dalam lingkup sekitar saya saja. Tapi ini sesuatu hal yang menarik, karena dari sini kita bisa membentuk sifat disiplin dalam berbagai hal. Baik hal yang serius (rapat kerja, janji dengan klien, dll) atau hal-hal yang kita anggap remeh (rapat RT, pengajian, pertemuan keluarga, dll). Dari dua hal yang menarik di atas, kita dapat membangun budaya disiplin dengan:

Pertama, menganggap bahwa semua acara penting dan berpengaruh terhadap hidup kita, walaupun itu ‘hanya’ rapat RT atau pertemuan keluarga. Anggaplah bahwa acara-acara seperti itu merupakan suatu ‘performance apraisal’ dari atasan terhadap kita. Jadi kita akan merasa harus ‘on-time’.

Kedua, dan ini membutuhkan dukungan dari banyak pihak, tidak bisa dilakukan sendiri. Yaitu memberikan ‘punishment’ terhadap orang yang ngaret, seperti bertanya “mengapa terlambat?” atau yang lain. Dengan harapan orang yang ditanyai seperti itu akan merasa mendapat ‘punishment’ karena datang terlambat dan tidak mengulangi hal yang sama.

Mungkin kedua hal tersebut terlihat sepele, namun jika kedua hal itu bisa dilaksanakan, sedikit banyak membantu kita dalam memberantas budaya “Waktu Indonesia Bagian Karet” yang telah mengakar dan seolah menjadi hal lumrah di masyarakat kita.

Bagaimana dengan anda?




One Response to “Disiplin : Mudah Diucapkan. Susah Dilakukan”

  1.   maskun INDONESIA Windows XP Mozilla Firefox 2.0 on 13 Mei 2008 at 2:33 pm

    sepakat mas. Memang sesuatu yang baik itu sangat susah untuk diimplementasikan. perlu perjuangan yang keras dan kesabaran yang terus menerus. dan yang penting, DIMULAI DARI DIRI SENDIRI!

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

2060 pages viewed, 1 today
433 visits, 1 today
FireStats icon Powered by FireStats