Mei 20 2008
Pelajaran Moral dari Dunia Tanpa Sekolah dan Laskar Pelangi
Minggu ini baru saja saya menghabiskan dua judul buku best seller yang sangat inspiratif, menarik, lugas dan menggugah emosi. Kedua buku tersebut adalah “Laskar Pelangi” dari Andrea Hirata dan “Dunia Tanpa Sekolah” karangan Izza. Kedua buku tersebut walaupun berbeda (novel dan bukan novel), tetapi kedua buku tersebut diilhami atau bahkan murni kisah nyata dan petualangan mereka. Dan kedua buku tersebut memiliki tema yang sama: PENDIDIKAN!!
Seperti yang telah diketahui bersama, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata merupakan novel inspiratif yang menceritakan sepuluh (yang kemudian menjadi sebelas) orang yang dinamai oleh gurunya sebagai Laskar Pelangi. Perjuangan tokoh-tokoh Laskar Pelangi yang berjuang dan memiliki semangat tinggi untuk bersekolah walaupun dari mereka tidak ada yang memiliki latar belakang keluarga mampu. Semangat tinggi (yang terutama diperlihatkan oleh Lintang, yang rela bersepeda 80 kilometer pulang pergi dan beberapa kali terjegat buaya) yang ditunjukkan oleh mereka dalam menempuh pendidikan formal di SD Muhammadiyah (SD kampung yang minim fasilitas) di kampungnya membuktikan bagaimana mereka sangat semangat dalam menuntut ilmu.
Berbeda dengan Laskar Pelang, Dunia Tanpa Sekolah yang ditulis oleh Izza, seorang remaja SLTP di Jawa Tengah yang ‘enggan’ menempuh pendidikan formal dengan alasan bahwa sistem pendidikan yang di dapatnya hanya dirasa membelenggu kreatifitas. Berbeda denga anak-anak Laskar pelangi, Izza justru merasa malas berada di sekolah, bahkan kadang-kadang dia membolos.
Laskar Pelangi yang begitu bersemangat untuk berangkat sekolah berbeda 180 derajat dengan Izza yang enggan untuk pergi sekolah. Mengapa itu semua bisa terjadi? Saya akan mencoba melihatnya dari sudut pandang berbeda (baca: sudut pandang saya).
Pertama, keterbatasan merupakan bahan bakar semangat untuk bersekolah. Andrea Hirata bersama Laskar Pelangi memiliki keterbatasan guna memperoleh pendidikan formal. Dan ketika mereka memperoleh hal tersebut, maka semaksimal mungkin mereka mempertahankannya. Berbeda dengan Izza yang berasal dari keluarga berada. Kemudahan dalam mengakses pendidikan sekolah menjadikannya tidak memiliki ‘gairah’ untuk mempertahankan apa yang telah diperolehnya. Seperti pepatah Jawa “easy come easy go”.
Kedua, mindset pendidikan yang berbeda. Dari cerita kedua pengarang di dalam bukunya, mindset ternyata memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah atau nilai dari seseorang. Kita lihat mindset dari guru-guru mereka. Ibu Muslimah memiliki mindset bahwa sekolah adalah ibadah dan beliau sangat ikhlas untuk menjadikan murid-muridnya pintar. Berbeda dengan guru-guru sekolah di SMP tempat Izza, mereka merasa bahwa sekolahya adalah yang paling favorit di Jawa Tengah, dan jika nilai-nilai (baca: kuantitatif) dari murid-muridnya turun, maka akan berpengaruh terhadap ranking dari sekolah itu. Jadi disini mindset dan niat guru-gurunya dalam mendidik muridnya ’sedikit’ tercemari. Dan itu akan berdampak pada pola atau metode pengajaran yang diterapkan.
Ketiga, orientasi individu. Yang ini tidak perlu dijelaskan, karena sudah masuk ke wilayah individual differences, setiap manusia pasti berbeda. Hanya saja Andrea tidak menyalahkan sistem, sedangkan Izza berpendapat bahwa sistem pendidikan di sekolahnya salah.
Dari ketiga paparan di atas, tidak ada salahnya bila hal tersebut di terapkan pada diri kita. Keterbatasan yang kita hadapi saat ini jangan dijadikan suatu halangan untuk meraih cita-cita. Banyak dari tokoh-tokoh sukses yang memiliki hambatan-hambatan, baik secara jasmani, materi atau yang lainnya. Seyogyanya, keterbatasan pada diri kita menjadikan pelecut dan sebagai bahan bakar untuk meletupkan semangat untuk meraih impian.
Mindset yang tidak berkembang, atau apriori terhadap apapun sebaiknya dihilangkan. Ubahlah mindset tetap kita menjadi mindset berkembang (untuk mindset akan dibahas di posting lain). Kemudian orientasi yang jelas dan fokus harus kita miliki. Karena tanpa orientasi yang jelas dan fokus, bagaikan berjalan di malam gelap tanpa disinari oleh cahaya.

Betul, memang kita salah pinsetnya kok…eh…mindsetnya! Yang jelas kita kehilangan apa yang disebut kecerdasan. Pintar ngomong tak pandai berpikir. Pendidikan itu seharusnya untuk menyemaikan cinta, tapi yang terjadi justru pembinasaan cinta.Salam kenal (duacinta.blogspot.com)